Gowa, Baratindonesianews.com – Kasus dugaan bullying yang dilakukan oleh seorang guru agama di SDIT At-Tabyan Al Aulia, Bajeng, Gowa, menguak potret kelam dunia pendidikan. Seorang guru berinisial S, tega menghina fisik siswi kelas 5A, berinisial N, dengan kata-kata yang sangat menyakitkan. Tindakan ini bukan hanya melanggar etika kependidikan, tetapi juga menunjukkan kegagalan moral seorang pendidik.
Korban, N, yang trauma atas perlakuan guru S, menceritakan kejadian tersebut kepada orang tuanya, Bapak H, seorang anggota TNI. Bapak H yang geram atas perlakuan guru tersebut, langsung mendatangi sekolah pada Kamis, 10 April 2025, untuk meminta pertanggungjawaban pihak sekolah. Namun, alih-alih mendapatkan penyelesaian yang adil, Bapak H justru mendapatkan serangan balik yang mengejutkan.
Guru S, yang merasa terpojok, malah melaporkan Bapak H ke Polisi Militer dengan tuduhan telah mendorongnya. Tuduhan ini dibantah keras oleh Bapak H. “Itu tidak benar! Saya sama sekali tidak mendorongnya,” tegas Bapak H melalui sambungan telepon. Aksi guru S ini menunjukkan upaya licik untuk mengalihkan perhatian dari tindakan bullying yang telah dilakukannya.
Keterangan korban semakin memperkuat dugaan bullying. N mengungkapkan hinaan yang dilontarkan guru S, “Kamu anak siapa, kenapa muka kamu jelek dan berjerawat?” Ucapan tersebut, selain menghina fisik, juga menunjukkan sikap arogan dan tidak profesional seorang guru. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa, bukan tempat mereka mendapatkan perlakuan traumatis.
Kejadian ini mengungkap kegagalan sistem pengawasan di SDIT At-Tabyan Al Aulia. Bagaimana bisa seorang guru dengan bebas melakukan bullying terhadap muridnya tanpa ada tindakan pencegahan dari pihak sekolah? Apakah pihak sekolah menutup mata atau justru membiarkan tindakan tersebut terjadi? Pertanyaan ini perlu dijawab secara transparan oleh pihak sekolah.
Tindakan guru S yang melaporkan balik orang tua murid ke Polisi Militer menunjukkan adanya upaya untuk menutup-nutupi kesalahan dan menghindari tanggung jawab. Sikap ini sangat memprihatinkan dan mencoreng citra dunia pendidikan Islam di Gowa. Sekolah seharusnya menjadi contoh teladan dalam menegakkan nilai-nilai moral dan etika.
Kasus ini juga mempertanyakan komitmen sekolah dalam melindungi siswanya dari tindakan bullying. Ketidakmampuan sekolah dalam menangani kasus ini dengan tepat dan adil, menunjukkan lemahnya pengawasan dan penegakan disiplin di lingkungan sekolah. Pihak sekolah perlu bertanggung jawab atas kejadian ini dan mengambil tindakan tegas terhadap guru S.
Hingga berita ini ditayangkan, guru S belum memberikan klarifikasi. Namun, tindakannya telah melukai banyak pihak dan menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas serta profesionalitas guru di SDIT At-Tabyan Al Aulia. Semoga kasus ini menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan di sekolah tersebut dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Red : Tiem