Oleh MZ. Nurdin Achmad
Baratindonesianews.com (03/09/2025) – Negeri ini, yang seharusnya menjadi rumah bagi harapan dan kemajuan, kini terasa seolah tak memberi ruang bagi perubahan sejati. Cita-cita luhur para pendiri bangsa hanya menjadi mimpi kosong yang melayang di udara, selama para pemangku kebijakan enggan mengubah pola pikir usang dan melupakan amanah besar yang diemban di pundak mereka.
Kekayaan melimpah ruah yang dianugerahkan kepada bumi pertiwi ini sejatinya adalah titipan suci dari rakyat, yang seharusnya ditata dan dikelola dengan bijaksana demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Namun, janji kesejahteraan itu kini tak lebih dari narasi usang, terbukti nyata sejak era reformasi 1998 hingga detik ini, tahun 2025, rakyat masih bergelut dalam kesulitan.
Delapan puluh tahun sudah bendera kemerdekaan berkibar gagah di angkasa, namun ironisnya, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka sehari-hari. Nama “rakyat” selalu diagung-agungkan dalam setiap pidato para pemimpin di mimbar-mimbar megah, tetapi nasib mereka tak kunjung membaik, seolah penderitaan adalah takdir yang tak terhindarkan.
Penderitaan seolah menjadi langganan abadi, sebuah warisan pahit yang terus berlanjut dari zaman penjajahan hingga era reformasi ini. Harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi tanpa kendali, pajak mencekik, harga bahan bakar minyak meroket, dan tarif listrik pun ikut melonjak tak terjangkau. Kini, hati rakyat kembali teriris dengan kejutan pahit berupa kenaikan pajak dan tunjangan fantastis bagi anggota legislatif. Jangan salahkan jika kesabaran rakyat akhirnya habis dan mereka memilih untuk bertindak.
Seharusnya, para pemimpin tidak menyambut jeritan hati dan keluhan rakyat dengan semprotan water cannon yang dingin dan deru mobil barakuda yang menakutkan. Mereka seharusnya membuka pintu lebar-lebar, menerima kehadiran rakyat yang datang dengan niat tulus untuk menyampaikan aspirasi dan keresahan yang membebani jiwa.
Rakyat tidak membutuhkan mobil barakuda atau gas air mata yang menyesakkan. Yang mereka cari adalah pemimpin dan wakil rakyat yang telah mereka pilih dengan harapan besar, untuk benar-benar mewakili suara mereka di parlemen. Tak heran jika rakyat akhirnya merasa bahwa yang mereka hadapi bukanlah pelayan, melainkan musuh, hingga akhirnya bertindak anarkis sebagai bentuk keputusasaan.
Kini, kita semua menyaksikan dengan pilu bahwa ada korban berjatuhan, baik dari pihak demonstran yang menyuarakan keadilan maupun dari aparat yang bertugas. Ada nyawa yang melayang, ada tubuh yang terluka parah, dan Gedung DPR yang megah kini menjadi saksi bisu, tinggal puing dan arang yang menghitam. Pemerintah harus lebih bijak dan humanis dalam mengatasi setiap permasalahan yang timbul.
Sangat melukai rasa keadilan rakyat ketika giliran mereka bertindak anarkis, hukum ditegakkan sekeras-kerasnya tanpa ampun. Sementara itu, para koruptor yang merampok hak rakyat justru difasilitasi dan mendapat keringanan hukuman yang mencabik-cabik hati nurani. Inilah paradoks yang terus melukai dan mengikis kepercayaan rakyat.
Rakyat selalu berhadapan dengan berbagai persoalan kompleks, mulai dari masalah sosial yang menggerogoti, ekonomi yang tak berpihak, hukum yang tumpul ke atas, hingga politik yang jauh dari keberpihakan pada mereka. Hal ini membuat masyarakat bingung, apatis, dan bertanya-tanya: mengapa semua ini terjadi?
Katanya negeri ini kaya raya, dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, tapi mengapa rakyat tak pernah merasakan kemakmurannya? Ada wakil rakyat yang duduk nyaman di kursi singgasana di gedung parlemen yang mewah, namun bukannya memperjuangkan kepentingan rakyat yang memilih mereka, mereka justru sibuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Ketika rakyat menyuarakan aspirasi mereka dengan damai, mereka tidak disambut dengan pendekatan yang humanis dan dialog yang terbuka, melainkan dengan mobil barakuda, semprotan water cannon, dan pasukan bersenjata lengkap yang menimbulkan ketakutan. Tak heran jika kemarahan rakyat akhirnya memuncak dan meledak.
Rakyat bukanlah musuh negara, begitu pula aparat. Wajar jika rakyat bergumam getir bahwa negara sudah merdeka, namun mereka sendiri belum merasakan kemerdekaan sejati. Rakyat hidup dalam penderitaan dan kesusahan, sementara para penguasa hidup dalam kemewahan dan gelimang harta. Ingatlah wahai para penguasa, jika rakyat marah, yang hancur hanyalah fasilitas dan harta benda yang fana. Namun, jika Tuhan yang marah, tak seorang pun di muka bumi ini mampu melawan. Pasukan-Nya bukanlah gas air mata, senjata meriam, atau granat, melainkan empat elemen dasar: gunung berapi, air, tanah, dan angin. Jika gunung berapi meletus, tak ada yang bisa menyelamatkan diri. Air yang seharusnya menghilangkan dahaga dan menyuburkan tanaman, bisa menghanyutkan segalanya dalam banjir bandang. Tanah tempat kita berpijak, bisa menelan kita semua jika Allah mengguncangkannya. Maka, ingatlah akan kematian dan akhirat. Jika kita lupa bahwa bumi dan langit bukanlah milik kita, bahwa kita hanya menumpang hidup untuk mengumpulkan amal dan ibadah sebagai bekal di alam baka.
Yang rakyat butuhkan adalah keterbukaan dan transparansi dalam setiap kebijakan. Rakyat butuh sosok elit negara dari tiga pilar pemerintahan yang menjalankan roda pemerintahan sesuai dengan amanat UUD 1945. Kepada para pemimpin negeri, jangan pernah merasa memiliki jabatan yang diemban. Jika Anda merasa memiliki, Anda akan mengalami nasib tragis seperti Namrud dan Firaun. Karena jabatan hanyalah titipan, sebuah amanah dari Tuhan dan rakyat. Jika para pejabat merasa dititipi dan menjalankan amanah itu dengan penuh tanggung jawab, yakinlah, rakyat negeri ini pasti akan sejahtera dan merasakan keadilan yang sesungguhnya.